Artikel

Keluarga dan Pengabdian

0

Oleh: Ustd. Rina Lestari, S.Pd

Banyak masyarakat di luar sana yang menganggap bahwa profesi guru sebagai profesi yang sangat mudah dan bisa dikatakan nyaman. Akan tetapi, kemudahan dan kenyamanan yang mereka rasakan hanya melihat potret luar saja. Pakaian rapi, bersepatu dan berdasi serta bekerja hanya duduk-duduk saja.

Sesunnguhnya hal tersebut tidaklah seperti yang mereka lihat karena terdapat kesulitan-kesulitan yang luar biasa. Contoh kecil saja ketika semua pada weekend (libur), terkadang guru masih mengerjakan tugas di rumah. Tugas tersebut semestinya dikerjakan di sekolah karena terkadang waktu tidak memadai maka harus dikerjakan di luar sekolah. Belum lagi ketika ada acara keluarga yang berbenturan dengan kebutuhan sekolah maka mau atau tidak mau kita harus memilih salah satunya.

Apalagi ketika kita sudah berumah tangga dan kita seorang perempuan, kita benar-benar dihadapkan pada pilihan sulit. Bagai buah simalakama, semuanya adalah prioritas sedangkan kita diharuskan bisa memilih salah satunya. Bagaimanapun keadaannya kita harus bijak menyikapinya. Berat? Memang iya karena dua hal tersebut (pengabdian sebagai seorang istri dan pengabdian sebagai seorang guru) sangatlah penting dalam kehidupan kita.

Menjadi guru sekaligus ibu rumah tangga tidaklah mudah. Jika tidak diimbangi dengan pengertian yang ekstra maka semuanya tidak akan berarti karena pengabdian kita sebagai guru akan selalu bertentangan dengan pengabdian kita sebagai istri. Kita harus benar-benar bisa menyeimbangkan keduanya.  

Mudahkah? Nyaman? Tentu tidak. Akan tetapi, bukan itu yang ingin kami bahas. Tergugah karena paradigma masyarakat di atas, penulis tertarik menulis kehebatan seorang guru yang sekaligus merangkap jabatan menjadi ibu rumah tangga.

Menjadi guru harus siap digugu dan ditiru. Guru dipercaya mendidik peserta didik dengan segala kemampuan dan kekreatifannya. Guru juga harus bisa memberi teladan yang baik karena guru juga akan dinilai sebelum kemudian ditiru oleh peserta didik. Apalagi guru di era ini, mereka harus memilih metode dan trik yang benar dan tepat untuk proses belajar mengajar. Guru bahkan dipercaya mengantarkan peserta didik ke gerbang kesuksesan.

Begitupun membina rumah tangga, kita juga dipercaya mendidik putra-putri kita serta membina rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Selain itu, kita juga dituntut untuk bisa membagi waktu dan pengertian agar semuanya berjalan sesuai harapan. Seorang istri juga sangat dipercaya mengurus semua kebutuhan keluarga.  

Menjadi guru ideal dan profesional serta menjadi ibu rumah tangga yang berbakti dan taat. hebat bukan? Memang tidak semudah yang kita bayangkan menjadi guru yang didambakan sekaligus menjadi keluarga yang sakinah. Akan tetapi, jika keduanya seimbang maka rintangan yang ada akan segera berlalu. Ketika kita mengajar maka secara tidak langsung kita mendapat tambahan ilmu guna bekal sebagai membina rumah tangga.

Percayalah, antara keluarga dan pengabdian jika dilperlakukan dengan seimbang maka kemudahan pasti akan datang. Ambillah hikmah dalam setiap perjalanan kita. Sekecil apapun pengabdian yang kita lakukan, bila dilakukan dengan ikhlas dan berniat karena Allah semua ada jalan dan balasannya. Secara tidak langsung kita juga melatih kesabaran tahap demi tahap, dari menghadapi anak didik dan menghadapi keluarga.

Semoga kita semua para pendidik generasi bangsa, khususnya pendidik di Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum bisa menjadi guru yang ideal dan professional, guru yang diharapkan dan didambakan sekaligus menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Amin

*) Penulis adalah Guru Bahasa Inggris di SMK Ibrahimy

Santripreneur; Pesantren di tengah Revolusi Industri 4.0 dan Bonus Demografi

Previous article

PESANTREN, BENTENG AKHLAQ?

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Artikel