3 mins read

Menerabas Takdir, Mungkinkah?

Penulis: Ustdh Astutik Maimuna, S.Pd.I*

سوابق الهمم لا تخرق اسوار الاقدار

“Himmah yang yang bergelora tidak mampu mengoyak tabir takdir Allah SWT.”

Takdir adalah ketentuan akhir dari Allah SWT untuk manusia. Apabila  Allah telah menetapkan takdir itu, tak seorang pun yang bakal mampu menolak ataupun menundanya (Qs. Fatir 21).

Takdir Allah SWT adalah masalah ghaib yang tak dapat dilihat oleh siapa pun. Hanya Allah SWT yang mengetahui kesejatiannya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya: “Dan di sisi-Nyalah alam ghaib, tidak ada yang mengetahui kecuali Dia (Allah) sendiri.” (Qs. Al-An’am 59).

Takdir dalam kehidupan manusia ada dua macam, yaitu Takdir Mubram dan Takdir Mu’allaq. Takdir Mubram adalah ketentuan Allah SWT yang  sifatnya mutlak sehingga tak bisa diubah meski dengan usaha yang sungguh-sungguh. Sementara, Takdir Muallaq ialah ketentuan Allah SWT yang masih berjalan sehingga dapat diubah dengan segala usaha disertai doa kemudian tawakal.

Berapa contoh tentang takdir Mubram antara lain ialah maut/ajal, suatu ketetapan Allah yang tak dapat diubah dengan segala usaha oleh manusia. Namun, maut/ajal itu dapat diubah, hanya saja bukan waktu kematian yang telah Allah SWT tentukan, melainkan cara kematiannya saja bagaimana mereka yang mendekati ajal memilih berujung baik (husnul khotimah) ataukah buruk (su’ul Khatimah) di akhir hayat mereka.

Selanjutnya, contoh takdir Muallaq sepertirezeki, kesehatan, dan kecerdasan. Takdir ketiganya bisa kita ubah dengan usaha yang sungguh-sungguh, orang yang sedang sakit maka bisa sehat dengan mereka berobat begitu pun dengan orang miskin mereka akan bisa menjadi kaya dengan cara bekerja keras. Lalu, kemudian orang bodoh mereka bisa mengubah kebodohan mereka dengan banyak belajar dan berlatih.

Manusia berada di antara ikhtiar dengan qada’ dan qadar Allah SWT sehingga mereka dapat berlomba mengejar takdir dengan ikhtiyar dan doa. Sebab, hanya Allah SWT yang dapat mengetahui nasib manusia dan menentukan hasilnya. Apa yang diperoleh manusia setelah ikhtiar dan berdo’a itulah takdir yang sebenarnya.

Tetaplah berusaha dengan sungguh-sungguh kemudian salurkan bersama gerakan iman yang memenuhi seluruh kalbu. Dengan demikian, keimanan kitalah yang niscaya akan mengatur himmah yang kita miliki, apakah kita tunduk pada takdir Allah SWT ketika melaksanakan panggilan himmah ataukah menolak.

Ungkapan masyhur di atas dikutip dari kitab Al-Hikam Karya Al-Imam Asy-Syaikh ibn ‘Athaillah As-Sakandari. Melalui hikmah tersebut, beliau mengajarkan bahwa pada akhirnya setiap segala usaha dan kekuatan yang dimiliki oleh manusia itu terbatas dan akan terhambat oleh kehendak dan takdir Allah SWT. Sebab, cita-cita yang keras dan semangat menggelora tidak akan pernah cukup mampu menerobos pagar takdir Allah SWT. Berserah diri kepada Allah, bukan menyerah, adalah cara terbaik menikmati setiap ketentuan takdir-Nya.[]

*) Penulis adalah santri aktif sekaligus guru MTs dan MADIN Miftahu Ulum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *