Artikel

MENUMBUHKAN BUDAYA SOPAN

0

Penulis: Ust. Rudi Hantono, S.Pd.I

Seperti yang telah kita ketahui, globalisasi memang membawa dampak positif dan negatif. Dampak positif bisa membawa kemajuan, misalnya pada bidang teknologi, informasi, komunikasi, dan juga di bidang ekonomi. Namun, dampak negatifnya juga bisa membawa kemunduran bagi masyarakat, khususnya pemuda, di bidang budaya, yakni kesopanan yang sudah menjadi ciri khas budaya Indonesia.

Sering kita temui di beberapa daerah, budaya kesopanan zaman sekarang ini memang sudah tidak begitu lekat seperti zaman dahulu, utamanya di kalangan remaja. Remaja mulai tidak menghormati orang lain dalam berkata dan bertindak. Beberapa kebiasaan mulai ditinggalkan dari mengucapkan salam, mencium tangan kedua orangtua, dan guru sebelum meninggalkan rumah dan sekolah serta membungkukkan badan ketika melewati orang yang lebih tua dan gurunya. Bahkan sesederhana mengucapkan “maaf” ketika berbuat salah, “terima kasih” ketika dibantu orang lain, “permisi”,dan “tolong” saja sudah mulai ditinggalkan.

Bukti nyata berkurangnya sopan santun masyarakat, khususnya para pemuda yang sedang viral saat ini ialah perang di medsos (media sosial). Banyak yang berkomentar di medsos dengan kata-kata kasar, tidak penting, dan tidak bermoral serta menyakiti hati. Hal-hal yang sepele saja dikritik, bahkan sampai membawa-bawa unsur SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Banyak pula yang mem-posting kata-kata cemoohan, foto, dan video tidak pantas di medsos. Namun, mirisnya di-like (suka) banyak orang dan malah dianggap keren dan kekinian.

Mengutip tulisan Rauzatul Muna (http://rauzatulmuna53.blogspot.com), ada tiga penyebab lunturnya kesopanan. Pertama, pengaruh perkembangan TIK (teknologi dan komunikasi), kebebasan mengakses informasi yang didukung dari internet yang mudah melalui laptop, tablet, dan smartphone sehingga mudah mempengaruhi pikiran remaja. Selain itu, modernisasi kultur kemudahan akses internet membuat remaja bisa melihat budaya dari negara lain; secara tidak langsung mereka mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari tanpa adanya filterisasi terhadap budaya yang diambil.

Kedua, pergaulan bebas. Ini merupakan efek dari modernisasi kultur yang tidak sesuai dengan adat istiadat Indonesia. Hal ini akan menimbulkan sifat meniru budaya barat yang cendrung bebas tanpa ada ikatan adat istiadat yang telah lama berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ketiga, kurangnya pembiasaan sopan santun di rumah. Sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah atau di lingkungan keluarga sehingga sikap orangtua dan masyarakat yang tidak mencerminkan norma-norma kesopanan akan mudah ditiru anak.

Sopan santun merupakan unsur yang paling penting dalam kehidupan bersosialisasi sehari-hari karena dengan menunjukan sikap santun seseorang dapat dihargai dan disenangi di manapun ia berada. Dalam kehidupan bersosialisasi antarsesama manusia, sudah tentu kita memiliki norma/etika dalam melakukan hubungan dengan orang lain. Dalam hal ini, sopan santun dapat memberikan banyak manfaat atau pengaruh yang baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Bagaimana cara menyikapi hal tersebut? Menurut Judith Wagner, Ph.D., seorang profesor bidang pendidikan dan perkembangan anak dari Whittie College, menyatakan bahwa selain keingintahuan perilaku anak, kita harus memberikan perhatian khusus pada orangtua agar memberikan contoh yang baik kepada anak (parenting). Wagner menyarankan kepada orangtua untuk memberikan alasan kepada anak setiap kali melakukan tindakan sopan santun. Dengan cara ini, naluri anak akan terbiasa untuk membedakan mana yang benar dan salah. Di samping itu, berikan pengertian kepada anak untuk selalu mencari nilai positif yang dimiliki setiap orang yang ia temui.

Selanjutnya, buat perjanjian dengan anak untuk tidak mencemooh orang lain setiap bertemu dengan orang baru. Di samping itu, selalu mengoreksi perilaku tidak sopan anak setiap hari. Dengan cara ini, prilaku anak akan terhindar dari perilaku tidak sopan.(http://www.vemale.com/keluarga/34769 tips mengatasi prilaku tidak sopan anak.html)

Dari penjelasan di atas sudah kita ketahui bahwa lunturnya budaya kesopanan dampak dari pergaulan bebas, contoh yang kurang baik dari orangtua, dan teknolgi yang semakin canggih dan pengaruhnya telah meluas tanpa pandang bulu, siapa saja bisa merasakannya. Untuk itu, perlu diperhatikan secara khusus terkait dengan norma-norma kesopanan yang berlaku di masyarakat karena tiap daerah memiliki norma-norma kesopanan yang berbeda-beda; di daerah A sesuatu hal dikatakan sopan, di daerah B bisa jadi kebalikannya. Jadi, di sini diperlukan dengan sikap harga menghargai terhadap orang lain, sikap tenggang rasa, dan sifat sabar.

Maka dari itu, harapan untuk ke depan selaku remaja dan masyarakat Indonesia tidak boleh takut dengan perubahan yang dibawa globalisasi, tapi jangan terlalu berani juga menyerap semuanya tanpa memfilter yang baik dan yang buruk. Tetaplah berhati-hati. Kita harus menjadi generasi muda dan masyarakat yang siap menghadapi perubahan. Oleh karena itu, kita sebagai orangtua dan guru seyogyanya selalu menanamkan sikap sopan santun kepada anak-anak kita. Kita berikan uswah (contoh) yang baik terhadap mereka agar mereka senantiasa menjujung tinggi sopan santun terhadap orangtua, saudara, guru, dan masyarakat luas.[]

 

*) Penulis adalah Guru Madrasah Diniyah (MADIN)

YPP Miftahul Ulum Bengkak Wongsorejo Banyuwangi

MENULIS ITU MUDAH

Previous article

Menyoal Tradisi Belin

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Artikel