Santri, Pesantren, dan Pengabdian
2 mins read

Santri, Pesantren, dan Pengabdian

15

Penulis: Rudi Hartono, M.Pd.

Dalam dunia pesantren, hubungan antara santri dan kiai sering diartikan dan dipahami dengan cara unik. Sejarah menunjukkan bahwa hubungan tersebut didasari oleh cinta, penghormatan, kepercayaan, dan komitmen spiritual.

Menegaskan pentingnya ilmu dan keikhlasan dalam hubungan tersebut, tidak ada arti perbudakan dalam hubungan yang tulus antara kiai dan santri. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bentuk pengabdian seorang santri terhadap kiai, dengan harapan mendapat keberkahan dari pengabdiannya.

Anehnya, di era modern seperti saat ini, muncul beberapa tuduhan bahwa santri di pesantren dianggap sebagai “budak kiai”. Padahal, hubungan santri dan kiai adalah relasi kekuasaan yang berlandaskan nilai-nilai cinta dan ketakziman.

Wakil Rais A’am PBNU KH. Afifuddin Muhajir menegaskan bahwa pengabdian santri kepada kiai merupakan ekspresi cinta yang tulus. Para ulama terdahulu pun telah menekankan bahwa posisi santri tidak boleh dipandang sebagai budak, sebab dalam proses belajar dan berkhidmah, hak serta martabat kemanusiaan mereka tetap harus dijunjung tinggi.

Pada hakikatnya, pendidikan di pesantren lebih menitikberatkan pada pembentukan adab dan kedisiplinan, bukan bentuk penindasan atau perbudakan. Santri menempuh proses pembelajaran yang sarat dengan kedisiplinan sebagai wujud latihan jiwa dan pengorbanan, yang dijalani bukan karena tekanan, melainkan atas dasar keikhlasan serta keyakinan kepada kiai sebagai orangtua ruhaninya yang membimbing menuju jalan kebaikan. KH. Sahal Mahfudz menegaskan bahwa pesantren merupakan wadah pembinaan yang menyeluruh, mencakup pembentukan akhlak, ketahanan mental, kemampuan sosial, hingga kecerdasan intelektual.

Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menekankan bahwa ilmu akan kokoh melalui pengulangan, memperoleh keberkahan lewat pengabdian, dan menjadi bermanfaat dengan keridhaan dari guru. Pesan ini menunjukkan bahwa santri di pesantren tidak semata-mata menimba ilmu, tetapi juga menjalani khidmah kepada kiai sebagai bagian tak terpisahkan dari proses belajar. Sebab, ngabdi dan ngaji adalah dua hal yang saling melengkapi dalam membentuk pribadi santri yang utuh.

Abuya KH. Moh. Hayatul Ikhsan, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bengkak, kerap mengingatkan bahwa santri hendaknya menjalani pengabdian dengan ketulusan hati. Sebab, keberkahan dalam proses belajar di pesantren tidak semata berasal dari ilmu yang diperoleh, tetapi juga dari keikhlasan dalam berkhidmah kepada kiai dan lingkungan pesantren.

Tujuan dari pengabdian santri ialah untuk membentuk karakter tawadu, kemandirian, kesederhanaan, menghilangkan kesombongan, dan tentunya berakhlak mulia. Oleh karenanya, mari kita jaga dan terus lestarikan hubungan ini sebagai bentuk cinta dan takzim kepada para kiai dan pesantren.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *