Sekolah Ramah Guru, Pentingkah?
Oleh: Putri Nura Wati, M.Pd.
Membangun sekolah ramah guru merupakan isu krusial bukan hanya sekedar wacana yang tak terwujudkan. Hal ini merupakan strategi jitu untuk menciptakan produktivitas pendididikan yang berkelanjutan, yang akarnya terletak pada kesehatan mental guru. Guru adalah kunci utama pendidikan. Mereka adalah arsitek yang merancang masa depan, penanam benih pengetahuan, dan pencetak generasi emas masa depan.
Umumnya, produktivitas seorang guru seringkali diukur dari hasil siswa, kelengkapan administrasi, atau jam kerja. Kondisi psikologis dan emosional guru sering kali diabaikan. Padahal ketika guru berada dalam tekanan yang berlebihan, baik karena beban kerja yang melebihi batas wajar, lingkungan kerja yang toxic, atau minimnya _support system yang baik maka kesehatan mental guru akan terganggu bahkan lebih parahnya akan tergerus sedikit demi sedikit.
Kesehatan mental yang terganggu ini biasa disebut dengan gejala burnout. Ketika guru mengalami burnout maka kualitas pengajaran mereka akan menurun, bukan hanya itu lebih parahnya lagi daya kreasi, inovasi, dan empati kepada siswa sedikit demi sedikit akan menghilang.
Bagaimana mungkin kita mengharapkan guru yang kreatif dan inovatif, jika mereka sendiri merasa tertekan dan tidak bahagia?
Produktivitas yang dipaksakan karena beban kerja berlebih hanya akan menghasilkan sebuah ketakutan dan kepatuhan yang minimal. Bukan sebuah kretifitas dan dedikasi sejati dan menurut Dr. Muqowim, M.Ag itu merupakan level paling rendah, yakni guru job.
Hal ini dapat dianulir dengan beberapa strategi yang dapat diterapkan di antaranya adalah dengan membangun sekolah ramah guru. Upaya ini merupakan usaha untuk menciptakan lingkungan sekolah yang ramah dan menyejahterakan seluruh masyarakat sekolah. Sekolah ramah guru memberikan kesempatan kepada guru untuk bisa mempersiapkan proses pengajaran dengan baik, yaitu dengan memberikan beban kerja yang realistis, penyederhanaan beban administasi, dan pengembangan profesionalitas guru yang bukan hanya sekedar pelatihan seremonial. Namun, harus dialokasikan dan yang paling utama adalah support dan apresiasi atas semangat serta usaha guru.
Sekolah harus menjadi tempat ternyaman guru dalam berkreasi dan berinovasi. Budaya sekolah yang positif akan menciptakan suasana yang saling mendukung. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama yang baik diantara seluruh masyarakat sekolah. Contohnya, kepala sekolah harus mampu menjadi penyangga atau penampung segala aspirasi guru. Bukan menjadi sumber tekanan tambahan. Ia harus mampu menjadi pendengar yang baik, pemberi solusi, dan pencipta jalur komunikasi yang aman bagi guru untuk menyuarakan segala kesusahan tanpa takut dihukum atau dihakimi.
Pada akhirnya, kesehatan mental guru merupakan bagian penting yang mempengaruhi produktivitas pendidikan. Dua poin krusial ini merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan. Ketika sekolah mampu memikirkan kesehatan psikologis guru, maka secara tidak langsung ia juga menjalankan tanggung jawab moral serta menciptakan kualitas pendidikan yang baik di masa depan. Guru yang merasa bahagia, didukung, dan sehat secara mental akan mempersiapkan kelas dengan baik, kreatif, dan inovatif. Mereka akan mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif yang akan berdampak mendalam pada jiwa setiap siswa yang mereka sentuh. Sekolah ramah guru adalah sekolah yang bijak. Hal ini dapat dipahami bahwa untuk menyalakan cahaya masa depan, kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa lilin yang dipegangnya tidak padam. Artinya sinergi dalam sekolah sangat penting untuk kelangsungan masa depan.