Seorang Ibu Merasa Kehilangan Anaknya; Kita Tahu Dia Ada di Mana
Oleh: Nur Hidayati
Selamat datang santri baru di asrama Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum (YPP MU) Bengkak Wongsorejo Banyuwangi. Ratusan santri dari berbagai daerah kini sudah mukim dan mulai mengikuti kegiatan secara aktif di YPP MU, baik kegiatan madrasiyah maupun asrama.
Pada masa awal kedatangan santri baru ini selalu banyak cerita di baliknya, musyrifah dan asatidz lebih sibuk dibanding hari biasa. Wajah-wajah baru hadir dengan segala nuansa, ada yang tampak riang berjumpa teman baru yang mengasyikkan. Adapula tampak murung katanya rindu rumah dan keluarga, bahkan terkadang sampai air matanya tak terbendung hingga isaknya memilukan.
Sebagian yang terakhir ini justru dibilang santri yang benar-benar nyantri. Tulisan Mas Dwy Sa’doellah, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan di beranda facebooknya bahwa santri yang tidak kerasan di pesantren itu sudah benar.
Perasaan tidak kerasan, tidak nyaman, tandanya para santri sedang diajari secara langsung bagaimana menahan diri dari nafsu. Hilangnya kemewahan, tidak ada kesempatan bersikap manja, membuat anak terlatih lebih mandiri dan tidak sombong. Karakternya tumbuh menjadi kuat dari waktu ke waktu. Ini yang sering disebut proses atau lelaku tirakat.
Namun, ternyata tirakat yang dilakukan oleh para santri saja tidaklah cukup, orangtuanya juga harus tirakat. Bagaimana cara tirakatnya orangtua?
Tawakal. Berserah diri sepenuhnya. Tawakal ‘alallah sekaligus pada semua aturan pesantren.
Tawakal pada Allah dengan niat yang tulus dan doa yang dimunajatkan secara istiqomah lebih mudah dilakukan. Akan tetapi, kepasrahan dan kepatuhan terhadap aturan yang telah ditetapkan pesantren masih sering tawar-menawar.
Dengan alasan agar anak lebih cepat kerasan di asrama, lalu meminta berbagai keringanan yang sifatnya lebih pada memanjakan.
Dapat dipahami bahwa berjauhan dengan sang buah hati bukan perkara mudah. “Rasanya ada yang hilang, tapi kita tahu dia ada di mana. Namun, tetap saja kita inginkan dia kerasan di tempat barunya (asrama),” tutur seseibu wali santri baru YPP MU.
Kekosongan yang dirasakan setelah anak berada di asrama sebaiknya alihkan pada hal-hal positif. Tetap ikuti aturan yang berlaku, semisal tidak berkunjung kecuali pada waktu yang telah ditetapkan. Tidak menelepon kecuali ada kepentingan yang sangat urgent.
Percayalah bahwa tirakat orangtua untuk taat pada aturan akan membawa dampak yang signifikan terhadap keberkahan ilmu anaknya. Maka dari itu, mari berusaha untuk senantiasa taat dan patuh pada Allah dan juga pesantren agar ilmunya menjadi manfaat dan barokah. Aamiin.