Artikel

Ust. Hariyanto, S.Pd.I Figur Guru Disiplin dan Tangguh

0

Penulis: Usth. Astutik Maimuna, S.Pd.*

Guru adalah sosok yang patut digugu dan ditiru. Sebagai pendidik, guru bertugas mulia mengemban amanah mencerdaskan anak didik, mentransfer ilmu, dan membimbing mereka, baik secara jasmaniyah maupun rohaniyah. Kemajuan dan berkembangnya suatu bangsa sangatlah tergantung pada kualitas pendidikan bangsa tersebut dan di situlah peran strategis sosok guru.

Keluarga besar YPP Miftahul Ulum (MU) Bengkak Wongsorejo Banyuwangi sungguh patut bersyukur memiliki banyak guru yang berperan baik sebagai pendidik. Salah satu yang menonjol ialah seorang lelaki bersosok pendidik yang kini sudah memasuki usia 43 tahun. Beliau biasa disebut “murobbi” di kalangan santri YPP MU.

Beliau dikenal sebagai guru yang memiliki kepribadian yang khas, tangguh, dan disiplin. Sosok yang mengabdikan diri di pondok pesantren ini tidak pernah mengenal yang namanya lelah dan letih. Tak peduli hari dipanggang panas terik atau sedang didera hujan, beliau tetap saja hadir menjalakan tugasnya sebagai guru. Kedisiplinan beliau sudah tidak asing di kalangan santri, murid, dan seluruh guru di lingkungan YPP MU. Berkat dedikasi, komitmen, dan kedisiplinannya itu, beliau beberapa kali menyabet predikat atau penghargaan sebagai “Guru Teladan” di pondok pesantren tempat beliau mengabdi ini.

Beliau menempuh seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah serta juga nyantri murni sepenuhnya di YPP MU. Mulai dari Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1983-1989, Madrasah Tsanawiyah tahun 1989-1992, hingga Madrasah Aliyah tahun 1993-1996. Di pesantren yang sama, beliau juga mengenyam pendidikan Madrasah Diniyah MU Ranting Sidogiri B:05 Pasuruan sejak tahun 1990 hingga 1996.

Pada tahun 1992, beliau sempat berkeinginan mencari ilmu di pondok pesantren lain,  tetapi tidak diperbolehkan oleh Mbah Sahur (kakek beliau). “Tak usah monduk deemmah-deemmah, Cong. Ilmuna Kiai temoranna (Kiai Djazari) bei paabik (Tidak perlu mondok ke mana-mana, Nak. Cukup ilmu yang dimiliki kiai di sebelah timur ini (Kiai Djazari) habiskan),” ujar tegas sang kakek melarang beliau. Alhasil, YPP MU menjadi lembaga pesantren satu-satunya tempat beliau menimba ilmu. Selain karena saran sang kakek, menurut beliau, pilihan atas YPP MU juga dikarenakan jarak antara rumah beliau dan pesantren ini sangatlah dekat, di samping karena orangtua beliau juga termasuk alumni YPP MU. Tentu saja, kata beliau, pilihan itu juga karena biaya di pondok pesantren tersebut sangatlah terjangkau.

Pada tahun 1990, beliau mulai bermukim di Asrama Putra YPP MU, bertempat sekamar bersama dengan Guru Tugas pertama dari Pesantren Sidogiri. Sejak itulah beliau mulai tekun belajar kitab-kitab ala pesantren sehingga menjadikan beliau ahli dalam bidang ilmu baca kitab kuning klasik. Beliau menguasai betul ilmu alat (bahasa Arab), seperti Nahwu dan Sharraf, sehingga beliau piawai membaca kitab-kitba klasik seperti Tafsir Jalalain, Ihya’ Ulumiddin, Nashaihul Ibad, dan lain-lain. “Bisa baca kitab itu tergantung pada ghiroh (kemauan) diri sendiri, bukan karena mondok di pesantren-pesantren besar,” ujar beliau memberi tips. Menurut beliau, mondok di pesantren kecil itu justru lebih fokus untuk ngabdi dan ngaji kepada sang murobbi (guru).

Mengabdikan diri di YPP MU, bagi beliau, merupakan ungkapan rasa terima kasih yang sangat tak terbatas, karena beliau merasa telah dibesarkan dlahir dan batin di pesantren ini saat beliau dulu berada dalam keterbatasan ekonomi keluarga.

Dalam rangka mengabdi itu pula, pada tahun 1996 hingga tahun 2000, beliau ditugasi oleh Pengasuh I YPP MU (KH Achmad Dzajari Marzuqi) untuk mengajar di Madrasah Diniyah Miftahul Arifin Bangsring. Kendati jarak tempuhnya kurang-lebih 8 km dari YPP MU, tempat beliau mukim, dan hanya menggunakan alat transportasi sepeda ontel (sepeda kayuh), beliau tetap menjalankan penugasan itu dengan senang hati, ikhlas, dan penuh semangat.

Selain tetap mengabdikan diri di YPP MU sebagai guru, beliau juga aktif mengabdikan dirinya sebagai Mudin — begitu orang Madura biasa menyebut perannya sebagai “penghulu desa” itu; lebih tepatnya, menjadi Pembantu Pegawai Pencatat Nikah (PPPN) di Desa Bengkak mulai tahun 2002 sampai 2017. Tepat tahun 2017, beliau diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan ditugaskan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Wongsorejo. Selanjutnya, pada bulan Juni tahun 2018, beliau pindah tugas ke KUA Banyuwangi Kota. Namun, status ASN yang beliau emban itu sama sekali tidak mengurangi kualitas pengabdian beliau, baik sebagai guru maupun pengurus pesantren (Kabid Kepesantrenan), di YPP MU.

Di sela-sela kesibukannya sebagai ASN, beliau juga mengabdikan diri sebagai guru sekaligus pengasuh di Pesantren Fathul Ulum Bengkak, sebuah pesantren yang beliau rintis dan dirikan. Kegiatan mengajar biasa beliau mulai sejak pukul 16.00 WIB, sepulang dari tugas sebagai ASN, hingga waktu shalat Maghrib menjelang. Selesai shalat Maghrib sampai dengan pukul 19.00 WIB, beliau masih juga menyempatkan diri mengajar ngaji al-Quran. Tidak hanya itu, beliau juga selalu istiqamah menjadi imam jama’ah shalat Shubuh di pesantren tersebut.

Siapakah beliau? Siapakah sosok guru ideal yang selalu ikhlas dan disiplin mengabdi tersebut? Beliau tidak lain ialah Ust. Hariyanto, S.Pd.I, seorang guru YPP MU kelahiran Banyuwangi, 28 Juni 1976. Kini beliau memiliki tiga putra, buah dari pernikahannya dengan Siti Yusro. Sampai detik ini beliau masih aktif sebagai mahasiswa S1 Fakultas Syariah di Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII) Genteng Banyuwangi.

Mudah-mudahan beliau selalu diberikan kesehatan, panjang umur, dan bisa terus bermanfaat buat agama, nusa, dan bangsa. Dan semoga para santri YPP MU mampu meneladani kedisiplinan dan ketangguhan beliau dalam mengabdi.

*Penulis adalah Guru Madrasah Diniyah Miftahul Ulum YPP MU Bengkak Wongsorejo Banyuwangi

Tahun Ajaran Baru, Rutinitas Pembinaan Guru Qur’an

Previous article

GERAKAN GEMAR BERSIH-BERSIH

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Artikel