Artikel

Yakinlah, Barokah Itu Ada!

0

Oleh: Ust. Zainur Rofiqi, S.Pd.I

Entah mengapa akhir-akhir ini kami merasakan suasana yang sedikit berbeda dengan pertama kami mondok dulu.  Sekitar tahun 2008 lalu, kami nyantri di Yayasan Pondok Pesatren Miftahul Ulum (YPP MU). Dulu santrinya memang terbilang sedikit jika dibangdingkan dengan saat ini. Akan tetapi, yang kami tahu pada saat itu santri yang semangat untuk mengabdi lebih banyak dibanding yang hanya sekedar nyantri.

Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa alumni juga menyampaikan hal yang sama. Ketika ada pertemuan atau silaturahim di YPP MU, mereka sering bercerita bahwa santri dulu lebih mengutamakan barokah dibanding segalanya. Santri akan berebut membantu kiai tanpa disuruh, mereka akan melakukannya dengan senang hati dan ikhlas. Hal itu dilakukan demi sebuah doa dan barokah.

Penulis pernah mendapat pesan nasihat dari senior kami yang sekarang menjadi Kepala Bagian Asrama Putra YPP MU. Nasihatnya singkat, yaitu “yakinlah barokah itu ada! Carilah dengan berkhidmah kepada murobbi dan pesantren”. Pesan Itulah yang selalu kami ingat sampai sekarang dan sering kami sampaikan kepada teman-teman santri. Sering kami mengatakan kepada mereka, “lakukanlah semua kebaikan meskipun itu hal yang remeh, mungkin dengan melakukan hal tersebut kita mendapat ridho dan barokah guru”.

Banyak hal yang bisa dilalukan untuk mencari barokah sekaligus berbuat kebaikan di pesantren, misalnya mencium tangan guru, membantu guru, meminum air bekas guru, menyapu halaman dan membersihakan lingkungan pesantren. Sayangnya, sebagian santri saat ini kurang memperhatikan hal tersebut. Padahal semua itu adalah bentuk khidmah kita kepada guru dan pesantren.

Bagi kita yang sedang nyantri, alumni, atau yang pernah menyandang status sebagai seorang santri pastinya tidak asing lagi dengan kata “barokah murobbi”. Apalagi bagi mereka yang sudah lama nyantri di sebuah pesantren pasti sudah faham betul seperti apa barokah. Akan tetapi, entah mengapa akhir-akhir ini sudah berbeda, seakan-akan semua itu mulai terkikis. Saat ini mereka lebih memilih fokus belajar dan mengejar prestasi dengan mengabaikan barokah. Akibatnya, mereka enggan membantu pekerjaan dhelem (sebutan untuk kediaman pengasuh atau majelis keluarga pesantren), bahkan ketika diminta oleh kiai mereka seperti tidak senang. Mirisnya, terkadang orangtua juga seolah mendukung dan menyepakati hal tersebut.  

Apakah keyakinan mereka terhadap barokah mulai luntur? Ataukah mereka sudah sangat percaya dan yakin bahwa mereka akan mendapatkan barokah?

Mungkin sudah banyak santri yang kurang yakin bahwa barokah itu ada, baik barokah guru ataupun pesantren sehingga sebagian santri melakukan khidmah kepada murobbi ataupun pesantren tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak istiqomah atau bahkan enggan. Semua terasa sangat berat karena itu bukan prioritas mereka. Padahal semua itu hanya perantara Allah untuk kebaikan kita sendiri.

Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki mengatakan dalam bukunya Mafâhîm Yajibu An Tushahhaha, “Sesungguhnya mencari berkah (ngalap barokah) tidak lain hanya sebagai pelantara memohon kebaikan kepada Allah melalui sesuatu yang diambil berkahnya, baik itu berupa peninggalan, tempat, maupun tubuh seseorang”. Artinya, mencari berkah sama halnya dengan memohon kebaikan untuk diri kita melalui perkara yang kita kerjakan guna memetik berkahnya.

Barokah memang tidak tampak dan tidak bisa kita lihat. Namun, sangat bisa dirasakan apalagi ketika kita sudah boyong (berhenti) dari pesantren. Barokah itu bukan hanya terlihat dari segi keilmuan melainkan juga dari umur yang barokah, rezeki yang barokah, dan keturunan yang barokah. Semua itu akan kita rasakan ketika kita sudah kembali ke masyarakat. Semoga kita semua senantiasa mendapat aliran barokah dari guru dan masyayikh YPP MU dan semoga kita selalu diberi keyakinan bahwa barokah itu pasti ada. Amin.

*) Penulis adalah guru Madrasah Diniayah dan Ketua Asrama Banin Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum.

MEMUTUS RANTAI PENYEBARAN KENAKALAN REMAJA YANG SEMAKIN MEREBAK

Previous article

KOPYAH NU

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Artikel