Ubudiyah

Keramat Jati

0

Penulis: Ust. Syukriyanto, S.Pd.I *)

Di dalam kitab Hadits Arba’in karya Imam Nawawi Al-Andalusiy, pada hadits yang ke-38, dijelaskan tentang keutamaan seorang wali dan aktivitas seorang hamba yang bisa menjadi seorang kekasih Allah SWT. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang firman Allah SWT berikut ini:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ [رواه البخاري]

“Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan ia melakukan hal yang Aku wajibkan terhadapnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah (nafilah) kecuali Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku adalah (yang menolong) pendengarannya saat ia mendengar, penglihatannya saat ia melihat, tangannya saat ia memukul, dan kakinya saat ia melangkah. Jika ia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memberikannya. Jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya” (HR al-Bukhari).

Setiap kewalian pasti disertai dengan karomah, baik karomah hissiyah (nyata) ataupun karomah ma’nawiyah (samar-rahasia-tersembunyi). Secara garis besar, wilayah kewalian itu terbagi dua, yaitu wali masyhur (terkenal-dikenal) dan wali mustatir (tersembunyi). Wali masyhur adalah pemegang karomah hissiyah, sedangkan wali mustatir adalah penyandang karomah ma’nawiyah.

Adapun tingkat kewalian itu terbagi menjadi 101 tingkat dan ke-101 tingkat itu ada pemimpinnya. Adapun pemimpinnya pemimpin dikenal dengan sebutan الغيت )Al-ghauts) danقُطْبُ الأقطاب (Quthbul Aqthob). Di antara hamba yang terpilih sebagai “Al-ghauts” ialah Al-Quthbu Arrobbani wal Ghouts Ashshomadani Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani yang merupakan pemangku inti dari kalangan wali masyur dan Asy-Syarif Al-Imam As-Sayyid Muhammad bin Ali sebagai pemangku inti utama dari kalangan wali mustatar. Disebutkan dalam suatu maqol bawa barokahnya wali mustatir (wali yang tersembunyi) mencukupi seluruh barokahnya wali masyhur (wali yang dikenali)

Setiap kewalian biasanya terbit dan memancar dari suatu kedislipinan amaliah (istiqomah). Disebutkan bahwa kedisplinan amaliah adalah sumber mata air kemuliaan (اَلْإِسْتِقَامَةُعَيْنُ الْكَرَامَةِ). Agar keistiqmahan ini terus terjaga, terdapat beberapa hal yang harus dijaga dan diwaspadai, antara lain selalu bersyukur atas nikmat keutamaan, hindari berbangga diri yang berakibat lupa diri gegara kemampuan luar biasa yang Allah anugerahkan, dan tetaplah melanggengkan amaliah serta senantiasa berharap keridoan Allah karena itu tujuan utama.

Hal tersebut sangat diperlukan guna tetap menjadikan diri kita sebagai hamba yang senantiasa selalu dicintai oleh Allah dan selalu ber-istiqomah. Sangat dianjurkan kita mampu menjaga keikhlasan, amanah dan kedisiplinan dalam amaliah yang kita kerjakan karena ada ungkapan “kedisiplinan amaliyah lebih baik dari seribu kemuliaan” (اَلْإِسْتِقَامَةُ خَيْرٌمِنْ أَلْفِ كَرَامَة)

Al-istiqomah itulah yang dikehendaki sebagai “Keramat Jati”, yaitu suatu laku rahasia yang kualitasnya hanya diketahui oleh sang pemilik rahasia (Allah SWT).

*) Penulis adalah Guru Madin Miftahul Ulum

AURA KAROMAH

Previous article

JALAN KEBERUNTUNGAN

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Ubudiyah